
Marsinah buruh pabrik arloji, mengurus presisi; merakit jarum, sekrup, dan roda gigi; waktu memang tak pernah kompromi, ia sangat cermat dan pasti.
Marsinah itu arloji sejati, tak lelah berdetak memintal kekafanan yang abadi:
“Kami ini tak banyak kehendak, sekedar hidup layak, sebutir nasi.”
Dongeng Marsinah, Sapardi Djoko Damono
Marsinah, mungkin namanya sudah banyak terdengar bagi sebagian orang terutama di kalangan para pekerja buruh Indonesia. Ketika hari buruh 1 Mei pun, namanya sering disebut2 begitu pula ketika hari HAM, fotonya pun tersebar dimana mana sebagai icon penuntut keadilan.
Ya, Marsinah adalah contoh kecil dari bentuk perlawanan rakyat menengah bawah kepada penguasa yang berakhir dengan hilangnya nyawa seseorang. Kasusnya dengan segala intrik didalamnya masih terus dikenang dan dianggap sebagai titik hitam dalam penegakan HAM di Indonesia.
Walaupun mungkin sudah banyak yg tau kasusnya, tapi gw coba angkat lagi disini agar teman2 yg belum tau atau ada anak2 muda yg belum kenal siapa sosok ini agar mengenalnya dan perjuangannya..sekaligus mungkin ada beberapa pembaca yg mengetahui info lebih bisa melengkapinya.
Inilah Marsinah, Sang Simbol Pergerakan Penuntut Keadilan bagi Buruh.
