Berpuluh tahun lekat dalam ingatan Rakyat Indonesia bagaimana kekejaman penyiksaan terhadap 7 Pahlawan Revolusi, yang dibunuh dengan cara mulai dari disilet, matanya dicongkel hingga kelamin mereka dipotong, tapi apakah demikian adanya?

Saya menulis thread ini bukan untuk membandingkan versi mana yang lebih kejam, karena kedua versi sama-sama kejam. Tetapi dua versi kematian ini sangat bertentangan satu sama lain, baik untuk kita mengetahui kedua nya. Versi mana yg lebih anda percayai, itu hak pribadi anda.

Persepsi publik selama puluhan tahun itu terbangun, selain lewat film G30S PKI yang rutin ditayangkan tiap tahun pada masa orde baru, juga didukung oleh informasi awal media tentang kasus ini.

Saat itu, media yang dipercayai untuk memberitakan seputar kejadian G30S PKI adalah media milik ABRI yakni Harian Angkatan Bersendjata dan Berita Yudha. Dua media ini menjadi pemasok utama informasi yang diikuti serempak media masa lain.

Karena saat itu informasi tentang kasus ini sangat tertutup, jadi media lain pun mendapatkan informasi kematian 7 Pahlawan Revolusi ini hanya dari dua media tersebut, informasi itu meluas dan seketika dianggap publik menjadi kebenaran, tanpa bisa dikonfirmasi lebih lanjut.

Harian Angkatan Bersendjata membertikan kematian tersebut dengan narasi “Perbuatan biadab berupa penganiajaan jang dilakukan diluar batas perikemanusiaan.” Sementara Berita Yudha menulis “Bekas luka disekudjur tubuh akibat siksaan sebelum ditembak membalut tubuh pahlawan kita”

Dikutip juga pernyataan Mayjend Soeharto, beliau mengatakan “Djelaslah bagi kita jang menjaksikan dengan mata kepala betapa kedjamnja aniaja jang telah dilakukan oleh petualang biadab dari apa jang dinamakan Gerakan 30 September”.

Pemberitaan tentang Jendral Ahmad Yani dalam harian Berita Yudha mengatakan setelah ditembak di rumah sendiri, tubuhnya dilempar ke dalam truk dan disiksa saat dilubang buaya. Dikatakan bahwa Jenderal Ahmad Yani mengalami luka di leher, wajahnya hancur, matanya di congkel.

Pada tanggal 7 oktober 1965, Harian Angkatan Bersendjata memberitakan bagaimana Jendral Harjono dan Jenderal Pandjaitan tewas akibat tembakan di rumah mereka sendiri, juga banyak bekas luka yang tercatat ditubuh mereka.

Edisi 9 oktober, Berita Yudha memberitakan walaupun wajah & kepala Jenderal Suprapto terdapat luka pukulan, sosok mayatnya masih bisa dikenali. Pemberitaan kematian Kapten Tendean mengalami luka irisan pisau pada dada kiri dan perutnya, lehernya digorok, dua matanya di congkel.

Berita Yudha juga mengutip pernyataan saksi mata disekitar kejadian apa yang dialami para korban “Ada jang dipotong kelaminnja dan banjak hal jang sama sekali mengerikan dan diluar perikemanusiaan”.

Informasi yang didapat masyarakat tentang kekejaman pembunuhan yang hanya berdasarkan pemberitaan tanpa pembukaan data hasil visum dan autopsi para Pahlawan Revolusi ini terus menjadi kepercayaan publik seiring dengan rutinnya tiap tahun penayangan film G30S PKI.

Jika melihat hasil Visum Et Repertum kasus G30S 1965, yang tidak pernah dibuka pemerintahan orde baru, kita akan menemukan fakta baru tentang kematian 7 Pahlawan Revolusi ini. Dokumen hasil visum tersebut ditemukan Benedict Anderson seorang ilmuwan dari Cornell University.

Hasilnya sangat berbanding terbalik dengan yang selama ini diketahui masyarakat. Dari laporan hasil visum ini kita tau bahwa pemberitaan media yang saat itu dikontrol Angkatan Darat tentang bagaimana para Pahlawan Revolusi dibunuh kurang akurat.

Dalam laporan hasil visum tersebut, Para Pahlawan Revolusi dibunuh dengan bekas luka tembak dan tusukan pisau bayonet, tidak ada irisan silet, mata mereka di congkel, kelamin mereka dipotong & tubuh mereka dimutilasi.

Benedict Anderson asal Cornell University, menemukan laporan hasil autopsi yang disusun oleh tim dokter yang terdiri dari dua dokter Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD), dr. Brigjen Roebiono Kertapati & dr. Kolonel Frans Pattiasina.

Ditambah tiga dokter sipil spesialisasi forensik medis Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) yakni dr. Sutomo Tjokronegoro, dr. Liau Yan Siang, dan dr. Lim Joe Thay. Tim ini dibentuk pada 4 Oktober 1965, berdasar perintah Mayjen Soeharto selaku Panglima KOSTRAD.

Adapun rincian hasil autopsi terhadap 7 Pahlawan Revolusi bisa dilihat pada gambar di atas.

Hasil Autopsi para Jenderal :

Hasil autopsi Jenderal TNI Anumerta Ahmad Yani, terdapat 10 luka tembak : 2 di dada kiri, 1 di dada kanan, 1 di lengan kanan, 1 digaris pertengahan perut, 1 di perut bagian kiri bawah, 1 di perut kanan bawah, 1 di paha kiri depan, 1 di punggung kiri, 1 di pinggul garis pertengahan.

Masih hasil autopsi Jenderal Ahmad Yani, kondisi lain, sebelah kanan bawah garis pertahanan perut ditemukan kancing dan peluru sepanjang 13mm pada punggung kanan.

Hasil autopsi Mayor Jenderal TNI Anumerta Donald Isaac Panjaitan terdapat tiga tembakan di kepala : 1 di alis kanan, 1 di kepala atas kanan, 1 di kepala kanan belakang. Kondisi lain, di tangan kanan dan kiri terdapat luka iris pisau.

Hasil autopsi Letnan Jenderal TNI Anumerta Soeprapto terdapat 11 tembakan di tubuhnya : 3 di pinggul kanan, 1 di punggung pada ruas tulang punggung keempat, 1 di pinggul kiri belakang, 1 di bokong sebelah kanan, 1 di pinggang kiri belakang, 1 di pantat sebelah kanan.

Masih hasil autopsi Letnan Jenderal TNI Anumerta Suprapto : 1 di pertengahan paha kanan, 1 di paha kanan belakang, 1 di kepala kanan. Kondisi lain, tulang hidung patah, dan tulang pipi kiri lecet.

Hasil autopsi Letnan Jenderal TNI Anumerta MT. Harjono tidak terdapat luka tembak, hasil visum ditubuh beliau terdapat luka tusukan panjang dan dalam di bagian perut. 1 tusukan di perut, 1 di pergelangan tangan kiri, 1 di punggung kiri yang tembus dari depan hingga belakang.

Hasil autopsi Mayor Jenderal TNI Anumerta Soetojo terdapat 9 luka tembak : 2 di tungkai kanan bawah, 2 di betis kanan, 1 di atas telinga kanan, 1 di telinga kanan, 1 di dahi kiri, 1 di pelipis kiri, 1 di tulang ubun-ubun kiri Dan di dahi kiri tengkorak remuk.

Hasil autopsi Letnan Jenderal TNI Anumerta S. Parman terdapat delapan luka tembak : 1 di dahi kanan, 1 di tepi lekuk mata kanan, 1 di kelopak atas mata kiri, 1 di bokong kiri, 1 di paha kanan depan, 1 di tulang ubun-ubun kiri, 1 di perut kiri, 1 di tungkai kiri bawah bagian luar.

Hasil autopsi Kapten Anumerta Pierre Tendean terdapat enam luka tembak : 2 di dada kanan, 2 di punggung kanan, 1 di leher belakang sebelah kiri, 1 di pinggul kanan Sementara tiga luka lain akibat pukulan : 1 di kepala kanan, 1 di tulang ubun-ubun kiri, 1 di puncak kepala.

Dapat kita lihat bersama bahwa dari hasil visum et repertum tidak ditemukan adanya pemotongan alat kelamin, mata yang tercongkel, telinga yang hilang, lidah yang terpotong atau luka dileher akibat penggorokan.

Jika kita melihat hasil visum tersebut sebaiknya kembali mempertanyakan kisah kematian para Pahlawan Revolusi yang selama ini melekat di benak kita &, mempetimbangkan kebenaran film G30S PKI yang selama ini pengangkatan kisah difilm berdasarkan hasil informasi saat itu. Tentu kita juga tidak lantas menyalah secara mutlak informasi awal versi orde baru, tapi mari mencari versi mana yg paling kuat buktinya. Karena dari 2 versi kematian para Pahlawan Revolusi ini akan menuntun kita ke muara, siapa pelaku sebenarnya dibalik peristiwa G30S PKI.

Untuk laporan lengkap terkait hasil autopsi Pahlawan Revolusi, kawan-kawan bisa mengakses serta mendownload langsung tulisan Benedict Anderson yang berjudul How Did The Generals Die terbitan Cornell University pada April 1987

https://ecommons.cornell.edu/handle/1813/53860

Atau kawan-kawan bisa menyimak wawancara dr. Law Yian Siang, salah satu dokter yang menjadi tim autopsi 7 Pahlawan Revolusi, terbagi part 1 dan part 2.

Sumber Buku : Dalih Pembunuhan Massal karya John Roosa, tahun 2006.

Sekali lagi saya tak akan menjawab siapa dalang dibalik G30S PKI karena tentunya hasil kesimpulan saya pastilah sangat berbeda dengan kawan-kawan semua saat, mencari sendiri, tergantung sebarapa banyak sumber data valid & sudut pandang sejarah yg anda kaji dalam persoalan ini.

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai